Bukittinggi – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bukittinggi memberikan edukasi 3R kepada siswa SMK Kesehatan Genus. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Edukasi berlangsung dalam kegiatan Ekspedisi Hijau di kawasan Paparangan Ngarai, Jumat (14/8/2026). Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kota Bukittinggi, Marwira Lizarni, memberikan materi kepada para siswa.
Kegiatan ini menjadi penting karena produksi sampah di Bukittinggi cukup tinggi. Setiap hari, volume sampah diperkirakan mencapai sekitar 80 hingga 100 ton.
Edukasi 3R Dorong Pelajar Kurangi Sampah
DLH Bukittinggi mengenalkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) kepada para siswa. Ketiga langkah tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Reduce berarti mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah. Misalnya, siswa dapat membawa tumbler dan kotak makan sendiri.
Sementara itu, reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak. Kemudian, recycle dilakukan dengan mendaur ulang sampah menjadi produk yang kembali bermanfaat.
Melalui kebiasaan tersebut, jumlah sampah dapat dikurangi. Selain itu, lingkungan sekolah dan rumah dapat menjadi lebih bersih.
Siswa Belajar Memilah Jenis Sampah
Para siswa tidak hanya mendapatkan materi di dalam kegiatan. Mereka juga mengikuti praktik untuk mengenali dan memilah sampah secara langsung.
DLH memperkenalkan tiga kelompok sampah. Ketiganya adalah sampah organik, nonorganik, serta bahan berbahaya dan beracun atau B3.
Sampah organik meliputi sisa makanan dan daun yang mudah membusuk. Sementara itu, botol, plastik, dan berbagai kemasan termasuk sampah nonorganik.
Sampah B3 membutuhkan perhatian khusus karena mengandung bahan berbahaya. Oleh karena itu, jenis sampah tersebut tidak boleh dikelola sembarangan.
Sampah Organik Bisa Diolah Kembali
DLH Bukittinggi juga mendorong pengolahan sampah organik. Sampah jenis ini tidak harus seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan kompos. Selain itu, sampah dapat diolah menggunakan maggot maupun menjadi eco enzyme.
Pengolahan tersebut dapat membantu mengurangi volume sampah. Dengan demikian, biaya pengelolaan sampah juga dapat ditekan.
DLH menyebut biaya pengelolaan berada di kisaran Rp100 ribu per ton. Dengan produksi 80–100 ton, biaya yang dibutuhkan dapat mencapai Rp8 juta hingga Rp10 juta per hari.
Kebiasaan Memilah Sampah Dimulai dari Rumah
Pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah dan petugas kebersihan tidak dapat bekerja sendiri.
Karena itu, masyarakat dapat memulai dari langkah sederhana. Salah satunya dengan memisahkan sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran penting. Edukasi sejak dini dapat membantu membangun kebiasaan peduli lingkungan.
Melalui edukasi 3R di Bukittinggi, para siswa diharapkan semakin memahami pengelolaan sampah. Kebiasaan tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
