Lewati ke konten
Situs informasi independen dan bukan situs resmi pemerintah.

Waspadai Gula Berlebih pada Anak, Ahli Ungkap Risiko Obesitas hingga Diabetes

0 0
Read Time:2 Minute, 44 Second

Kebiasaan anak mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula perlu menjadi perhatian orang tua. Pasalnya, asupan gula yang berlebihan dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan sejak usia muda.

Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, mengatakan makanan manis semakin mudah ditemukan. Kondisi tersebut terutama terlihat di daerah perkotaan.

Selain itu, sumber gula tidak hanya berasal dari minuman manis. Gula juga dapat ditemukan dalam jajanan sekolah, saus, kecap, serta berbagai makanan ringan.

Karena itu, orang tua perlu memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi anak setiap hari. Kebiasaan membaca informasi nilai gizi pada kemasan juga perlu diterapkan.

Gula Berlebih Tingkatkan Risiko Obesitas

Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan asupan energi anak. Jika tidak diimbangi aktivitas fisik, kelebihan energi dapat disimpan sebagai lemak tubuh.

Akibatnya, risiko kelebihan berat badan dan obesitas dapat meningkat. Kondisi tersebut perlu dicegah sejak dini.

Prof. Hardinsyah menjelaskan bahwa kelebihan gula dapat berubah menjadi lemak tubuh. Selain itu, penumpukan lemak dapat terjadi di sekitar organ penting.

Oleh sebab itu, pola makan seimbang menjadi sangat penting. Anak juga perlu dibiasakan melakukan aktivitas fisik secara rutin.

Risiko Diabetes dan Resistensi Insulin

Asupan gula berlebihan juga berkaitan dengan kadar gula darah. Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, risiko gangguan metabolik dapat meningkat.

Menurut Prof. Hardinsyah, kadar gula darah tinggi yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi prediabetes hingga diabetes. Karena itu, konsumsi makanan manis perlu dibatasi.

Selain itu, resistensi insulin juga menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal.

Risiko tersebut dapat semakin besar apabila anak mengalami obesitas. Dalam jangka panjang, kondisi metabolik yang buruk dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan lainnya.

Makanan Tinggi Gula Bisa Ganggu Kesehatan Gigi

Dampak konsumsi gula juga dapat terlihat pada kesehatan gigi. Makanan dan minuman manis yang sering dikonsumsi dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi.

Karena itu, kebiasaan menjaga kebersihan mulut perlu dibangun sejak kecil. Anak sebaiknya menyikat gigi secara teratur, terutama setelah makan dan sebelum tidur.

Namun, menjaga kebersihan gigi saja belum cukup. Konsumsi makanan manis juga perlu dikendalikan.

Dengan demikian, pencegahan dilakukan melalui dua langkah sekaligus. Orang tua dapat mengatur pola makan sekaligus membangun kebiasaan menjaga kebersihan gigi.

Orang Tua Perlu Cermat Membaca Label

Membaca label informasi nilai gizi dapat membantu orang tua mengendalikan konsumsi gula anak. Terlebih, kandungan gula pada kemasan sering dicantumkan berdasarkan jumlah sajian.

Artinya, satu kemasan dapat terdiri dari lebih dari satu sajian. Karena itu, jumlah gula yang benar-benar dikonsumsi bisa lebih besar apabila seluruh kemasan dihabiskan.

Selain itu, orang tua dapat menyediakan alternatif makanan yang lebih sehat. Buah, sayur, dan makanan bergizi seimbang dapat menjadi bagian dari menu harian.

Keluarga dan sekolah juga memiliki peran penting. Keduanya dapat membantu membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia dini.

Batasi Gula, Bukan Hilangkan Sepenuhnya

Gula tetap dapat menjadi bagian dari pola makan. Namun, jumlahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Prof. Hardinsyah menyebut batas untuk anak sekolah lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Ia menyebut kisaran sekitar tiga hingga empat sendok makan gula per hari untuk anak sekolah.

Selain itu, modul program gizi UNICEF Indonesia dan pemerintah juga mengingatkan risiko jajanan tinggi gula, garam, dan lemak. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas serta penyakit tidak menular saat dewasa.

Oleh karena itu, pengendalian makanan dan minuman tinggi gula pada anak perlu dimulai dari rumah. Dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan edukasi gizi, kesehatan anak dapat dijaga sejak dini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Disclaimer kesehatan: Informasi pada situs ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran langsung dari tenaga kesehatan.